My life, my nature, my harmony

My life, my nature, my harmony

Rabu, 09 Maret 2011

INDONESIA SIAGA (1)

Suasana pasca bencana tak dapat dipungkiri, selain menimbulkan kesedihan juga masalah yang sangat berat di berbagai segi. Kota yang sekian lama dibangun, sistem yang telah sekian lama berjalan, bisa hancur seketika, saat bencana melanda.

Indonesia telah mengalami beberapakali permasalahan pasca gempaterjadi. Di tengah kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh becana alam, kekacauan bertambah riuh dengan kepanikan, penjarahan, informasi simpang siur, dan provokasi lainnya. Distribusi bantuan tidak merata, koordinasi penanganan bencana juga tidak jelas. Akibatnya, korban menjadi menderita. Terasa sekali, bencana alam bagaikan sebuah petaka dahsyat.

 Namun itulah potret jiwa jiwa negara kita. Ternyata kita belum mampu mengelola diri kita dengan baik. Bangsa yang dikabarkan murah senyum danramah tamah, menampakkan keaslian sifatnya ketika terjadi bencana. Kita harus belajar banyak dari’Jepang, negara yang kabarnya ditinggali oleh sebagian orang yang ateis,tetapi ternyata mereka justru menunjukkan akhlak yang lebih mulia daripada kita yang mengaku beragama, bahkan sering kali terjadiperpecahan karena pertentangan masalah agama. Kita seharusnya malu, sebagai bangsa yang memiliki dasar negarabegitu baik, tetapi tenyata kenyataannya sebaliknya.

Budaya Antri dan Kesabaran
Sudah jamak kita ketahui, di Indonesia, sangat sulit membiasakan budaya antri. Kecuali di bank, bioskop, dan tempat-tempat wisaata, yang memang peraturannya dibuat demikian, budaya antri belum menjadi sebuah kesadaran. Menyerobot, menyogok, membayar calo, perang mulut karena berebut antrian, kerap mewarnai antrian di negara kita. Bandingkan dengan negara jepang. budaya antri telah mendarah daging dalam kebudayaan warganya. Mereka dengan tertib dan tanpa diperintah melakukan antrian pada setiap aktivitas yang membutuhkan giliran. Kebiasaan tersebut, rupanya masih juga terbawa bahkanketika dalam suasana duka dan kacau sekalipun. Meski sedang dilanda bencana yang besar dan parah, mereka tetap dengan tegar dan sabar mengantri jatah diberikannya makanan. Tak ada penyerobotan, tak ada kepanikan dan kecemasan untuk tidak mendapat bagian. Mereka melakukannya dengan penuh kesadaran. Dan ketenangan. Mereka yakin : semua akan mendapatkan bagiannya. Sungguh mempesona!

Bandingkan dengan di Indonesia. Jangankan pada saat terjadinya bencana. Pembagian sembako saja menjadi sebuah ajang “rayahan”, saling sikut, saling dorong, saling injak, tak peduli satu sama lain, yang ada di kepala adalah, bererbut duluan untuk mengambil jatah untuk diri sendiri, dan tidak hanya seperlunya, kalau bisa, sebanyak-banyaknya. Sungguh memprihatinkan kepribadian bangsa yang mengaku memiliki Panca sila sebagai dasar Negara ini. Pertanyaannya, di manakah salahnya bangsa kita? Mengapa bangsa kita tumbuh sebagai bangsa yang haus dan serakah? ingin menjadi serba paling cepat, dan nomor satu, dan tidakmempedulikan kepentingan orang lain? Pokoknya yang penting gue, yang lain, EGP! (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar