My life, my nature, my harmony

My life, my nature, my harmony

Selasa, 09 November 2010

MENJADI DOKTER BAGI DIRI SENDIRI (1)

Siapa yang ingin sakit? Jawabannya pasti tidak ada. Semua orang ingin sehat. Tapi, apakah kita semua mau melakukan apa saja untuk sehat? Belum tentu.

Bagi sebagian sedikit orang, berbagai cara dilakukan supaya kita terus hidup sehat. mereka yang peduli akan kesehatan bahkan rela membayar mahal untuk itu.  Tapi kebanyakan di antara kita, di tengah kesibukan yang menggila di era modern ini, kita bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana menjaga kesehatan dengan baik. makan, asal hajar, yang penting enak, dan suka. bekerja pun tak kenal lelah, seolah-olah kita memiliki cadangan energi ntuk bertahan tidak tidur 100 tahun lagi. olah raga? duh, mana sempet? jangankan untuk itu, waktu istirahat saja kita mencuri-curi. terkadang kita juga lalai mengkonsumsi vitamin yang kita buthkan untuk tubuh kita. tahu-tahu,.... bruk.... ketika tubuh jatuh sakit, tahulah kita, bahwa ternyata selama ini ktia kurang memperhatikan tubuh kita. kita terlalu memaksakan diri untuk bekerja dan bekerja tanpa kompromi dengan tubuh kita yang sebenarnya telah menjeritmeminta isitirahat..

Ketika tubuh ktia jatuh sakit, sesungguhnya itu adalah akumulasi dari serangkaian kelelahan tubuh kita. Akumulasi itu bisa muncul dalam berbagai bentuk penyakit, mulai dari darah tinggi, demam, liver, ginjal bahkan stroke! nauzubillahi minzalik! Penyakit-penyakit tsebut sering dsebut para praktisi suplemen sebagai the silent killer, dimana ketika sebuah penyakit berproses tanpa kita sadari, dan baru ketahuan ketika penyakit sudah akut. tak jarang diantara penderitanya semula tampak sehat-shat saja. paling-paling, mengeluh kecapean yang tak dianggap terlalu berarti, namun tiba-tiba esoknya divonis menderita penyakit yang tikngat tinggi dan memerluka penyembuhan secara intensif baik dari segi biaya, dan waktu. tentu kita tidak mau mengalami hal itu.

setiap orang memiliki kelemahan yang berbeda-beda. terkadang ancaman penyakit juga berhubungan dengan pekerjaan dan aktivitas sehari hari yang kita lakukan. buat para pekerja keras yang yangbanyak mengeluarkan tenaga, biasanya terancam oleh sakit liver. sedangkan penyakit orang yang selalu banyak duduk dan di ruang ber AC adalah ginjal, karena rasa dingin membuat di antara kita malas minum karna malas bolak balik ke kamar kecil. lain lagi bagi yang bekerja di bidang nuklir ancaman radiasi nuklir dapat merusaksistem hormon dalam tubh manusia. oleh karena itu kita perlu mengenali tubuh kita sendiri, untuk sehat.

satu hal yang penting, adalah membuat rekaman kesehatan kita. tak banyak yang melakukan rekaman kesehatan, padahal itu sangat penting. gunanya adalah untuk mempermudah dokter dalam menangani kita apabila kita sakit. terkadang, mal praktek terjadi karena kurangnya informasi dokter akan riwayat penyakit pasien. seperti kita ketahui,budaya dokter di indonesia, kebanyakan hanya menanyakan seputar keluhan, periksa sebentar lalu kasih obat.  seandainya kita memiliki rekaman kesehatan diri kita sendiri, alangkah lebih mudahnya untuk melihat peta kesehatan kita sendiri, selain itu, dokter pasti akan lebih mudah menganalisa dan meneliti suatu penyakit, sehingga langkah preentif terjadinya mal praktek sudah dilakukan.

sya sendiri adalah orang yang sering kali mengalami sakit. tiap bulan pasti ada saja hal-hal yang minimal membuat badan saya kurang enak. hal ini membuat saya kemudian meneliti tubuh saya, apa yang terjadi, dan faktor apakah penyebabnya. terkadang, kita sendiri tak mampu ntuk mengingat-ingat sejak kapan kita mengeluh sesuatu, atau obat apa yang pernah kita konsumsi yang barangkali juga mempengaruhi kondisi keadaan kesehatan kita. wal hasil, saya mulai membuatcatatan untuk mereview catatan kesehatan saya sendiri. saya buat dalam bentuk tabel, yang terdiri dari kolom nomor, jenis keluhan, tindakan yang saya lakukan, efek, dan keterangan. saya kemudian jadi bisa melihat alur riwayat penyakit saya, semisal, bulan lalu saya jatuh sakit karena saya kelelahan dan kurang minumvitamin. kemudian bulan berikutnya saya meriang karena terlalu banyak ac.... lama kelamaan saya bisa mewaspadai dan mengukur diri saya sendiri, untuk bisa mengontrol kesehatan saya. paling tidak, saya mencegah,... kalaupun kita sudah mencegah toh akhirnya sakit juga, anggap saja itu pengguguran dosa-dosa yang tidak bisa dihapus dengan doa, melainkan dengan sakit....

mengobati diri sendiri
ada pepatah bijak mengatakan, dokter terbaik adalah diri kita sendiri. hal ini bisa dibenarkan, karena kitalah yang memiliki tubuh, kitalah yang mengetahui apa yang tubuh kita butuhkan. tentu saja, hal ini tidak mudah begitu saja dilakukan. serangkaian pengenalan diri kita pada diri sendiri, dan penelitian mendalam kita akan diri kita sendiri, mutlak dibutuhkan untuk bisa mengobati diri sendiri. dulunya, sayasakit-sakitan lebih parah dari pada saya sekarang. tetapi sejak saya mulai melakukan research tentang diri saya, saya merasa pikiran, jiwa, dan tubuh saya menyatu. ketika tekanan darah saya turun misalnya, dengan sendiriny hati atsaya memiliki keinginan untuk makan sate kambing. keinginan ini bukanlah nafsu makan yang menggila,namun sekiranya sudah merasa cukup, saya pun memiliki sinyal untuk makan sate secukupnya. apabila saya melanggar, maka benarlah, dicek ke dokterrupanya keluharnnya adalah tekanan darah rendah. dan apabila sinyal hati saya untuk stop tik say aperhatikan, bukannya enak badan yang saya dapatkan, tetapi malah sebaliknya. ini terjadi berkali-kali sampai saya akhirnya memahah mi, bahwa tubuh saya sebenarnya memiliki sinyal sinyal untuk berkomunikasi dengan kita.

selain itu, ketika sakit, secara intuitif saya bisa meraba, kira-kira apa yang tubuh saya perlukan, tanpa harus bertanya pada orang lain tentang apakah obatnya. misalnya, ketika saya sakit maag, dengan terstruktur saya menemukan obatnya bahwa apa yang saya butuhkan adalah kunyit, takarannya sekian, dan perlu dimakan selama beberapa hari. dan alhamdulillah, selamaini tubuh saya pun menerimanya.

saya merasa, setaip orang memiliki kemampuan alamiah itu. karena manusia pada dasarnya makhluk yang universal. tubuh,  jiwa, dan pikiran, menjadi satu dalam sebuah sistem pertahanan diri yang baik. tinggal pilihan kita, akan menyatukannya atau membiarkan semuanyabekerja sendiri-sendiri, tanpa saling mengkait.... jika kita memilih tubuh kita berjalan sendiri tanpa kontrol jiwa dan intuisi kita, maka bersiap siaplah kita tidakmengenalnya ketika ia mengalami masalah.akibatnya, banyak orang berobat ke sana kemari tapi tidak sembuh. hal ini karena ia sering mengabaikan sinyal-sinyal alami dalam tubuh kita. namun jika sebaliknya, maka insyaallah hidup kita pun akan terjaga. sakit memang tak bisa didguga tetapi dicegah itu lebih baik....

mengenali sinyal-sinyal alami tubuh kita
beberapa orang bertanya dan menyangkal  intuisi adalah milik semua orang, karena kenyataannya mereka tidak pernah merasakan itu. golongan ini berpikiran bahwa intuisi adalah bakat orang – orang tertentu saja, dan menyamakannya dengan semacam six sense. sebenarnya hal itu salah. karena manusia pada dasarnya memiliki substansi yang sama. hanya, lingkungan, kebiasaan hidup, paradigma, dan gaya hiduplah yang mempengaruhi apakah intuisi itubisa tu mpul atau sebaliknya makin tajam. inutuisi sebenarnya kita perlukan bukan utnuk siapa-siapa melainkan untuk pertahanan diri kita sendiri. sebagian orang menyebutnya feeling. hal ini bisa diasah dengan seringnya kita meluangkan waktu sejenak untuk diri kitasendiri, sekedarberdiam diri dan mendengarkan apa kata hati kita yang sebenarnya.pengakuan dan penerimaan akan isi hati kita sejujurnya akan memperkuat intuisi kita dan mendorong diri kita untuk bersikpa sesuai apa yang ada dalam isi hati kita. kebiasaan ini menghindarkan kita dari sikap munafik baik pada diri sendiri maupun orang lain.
(bersambung)
Nov. 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar