Bambu di jaman modern ini, popularitasnya kurang terdengar di kalangan masyarakat luas, kecuali cuma sebagai bahan furniture, alat-alat dapur tradisional, dan bahan pembuat rumah bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Pohon bambunya sendiri terkadang luput dari perhatian. Bahkan, di beberapa daerah, rumpun bambu banyak ditebang karena selain terkesan 'angker', juga kurang menghasilkan. Seperti diketahui, harga jual batang bambu memang tergolong sangat murah. Bandingkan saja dengan kayu. Dengan uang kurang dari 10ribu sudah bisa mendapat sebatang bambu mentah.... Yang lebih mengenaskan lagi, kata teman yang pernah berdinas di pedalaman Kalimantan, bambu di sana bahkan dianggap tanaman tak berguna, yang dibuang begitu saja jika rumpunnya sudah terlalu banyak....
Bambu memang seolah tanaman terlupakan, padahal manfaat bambu sangat banyak. Selain kegunaan batang bambu untuk berbagai utility kehidupan, pohon bambu sendiri memiliki banyak kelebihan. Keunikan struktur kayu pada bambu adalah rongga kapiler di dalamnya sangat banyak dan mudah menyerap air. Itu sebabnya bambu bisa diandalkan sebagai salah satu tanaman ramah lingkungan dengan kemampuannya menyimpan air. Bayangkan saja, jika satu rumpun bambu yang ditumbuhi 50 batang bambu, mampu menyimpan debit air hingga 2000 liter. Kemampuan bambu untuk mempertahankan debit air ternyata mampu mengurangi panas bumi yang diakibatkan oleh aktivitas magma gunung berapi. Makanya bambu biasanya lebih banyak tumbuh di pegunungan ketimbang pantai. Hal ini karena hukum keseimbangan alam, bambu berfungsi untuk menjaga kestabilan debit air agar tidak menguap habis karena panas. Kelebihan bambu lainnya adalah akarnya yang berbentuk rumpun bisa menjadi filter air, sehingga mengurangi pencemaran. Akar bambu cukup kuat untuk menahan tebing. Serabut akarnya yang banyak dan mencengkeram tanah dengan kuat mampu menahan erosi.
Itu baru akar dan batangnya. Belum daunnya. Satu batang bambu, mampu mensuplai oksigen untuk satu orang dalam satu hari. Klorofil dalam bambu memiliki kelebihan memproses fotosintesis lebih cepat dari daun lainnya. Oleh karenanya bambu bisa mengatasi polusi udara, karena kemampuannya menetralisir udara kotor dengan melepaskan banyak oksigen. Selain itu, daun keringnya juga sangat bagus untuk pupuk organik yang dapat mensuplai kebutuhan nutrisi tanaman.
Selain bisa mengatasi polusi udara, tanaman bambu dapat mengatasi polusi suara jika ditanam di kota besar. Hal ini wajar karena bambu memiliki rongga di dalam batangnya yang berfungsi meredam suara - suara bising. Di samping meredam suara berisik, bambu sendiri juga menghasilkan suara-suara khas yang mendamaikan, ketika batang-batangnya saling bergesekan satu sama lain.
Kelebihan tanaman bambu lainnya adalah tahan banting, mudah ditanam, dan cepat tumbuh. Bambu relatif kuat bertahan dalam segala cuaca. Di saat musim hujan ia menyerap banyak air, di saat kemarau, ia menggunakan cadangan airnya untuk tumbuh sembari juga memberi suply bagi tanaman sekitarnya. Bambu cukup mudah ditanam, asalkan sudah berakar, tinggal ditancap ke tanah dan mendapat cukup suplai air di awal pertumbuhannya, bambu bisa survive dan tumbuh tunas daunnya. Dalam waktu 5 tahun, bambu sudah mulai membentuk rumpun dan bisa dipanen dan akan terus tumbuh sepanjang masa.
Akhir-akhir ini, bambu hias sudah mulai banyak ditanam untuk menjadi bagian dekorasi tanaman di kota-kota besar. Alasan penanaman bambu ini lebih banyak berawal dari sisi eksotismenya dibanding dengan fungsinya. Namun seiring perjalanan waktu, bambu sengaja banyak ditanam sebagai tanaman ekologis peredam polusi udara. Belakangan ini, bukti bencana di berbagai daerah menunjukkan rumah bambu ternyata lebih tahan gempa. Karena keunggulannya ini bambu mulai intensif dipelajari.
Nah, dengan segala kelebihan dari tanaman bambu, kenapa harus ragu untuk mulai menanam bambu sejak sekarang? Pada tahun ini bahkan Prancis menobatkan bambu sebagai tanaman ekologis yang harus dinomor depankan untuk penyelamatan lingkungan. Anda setuju? Ayo mulai tanam bambu!
(Sumber data: Jatnika Nanggamiharja)
***
My life, my nature, my harmony
Rabu, 23 Maret 2011
Rabu, 09 Maret 2011
INDONESIA SIAGA (1)
Suasana pasca bencana tak dapat dipungkiri, selain menimbulkan kesedihan juga masalah yang sangat berat di berbagai segi. Kota yang sekian lama dibangun, sistem yang telah sekian lama berjalan, bisa hancur seketika, saat bencana melanda.
Indonesia telah mengalami beberapakali permasalahan pasca gempaterjadi. Di tengah kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh becana alam, kekacauan bertambah riuh dengan kepanikan, penjarahan, informasi simpang siur, dan provokasi lainnya. Distribusi bantuan tidak merata, koordinasi penanganan bencana juga tidak jelas. Akibatnya, korban menjadi menderita. Terasa sekali, bencana alam bagaikan sebuah petaka dahsyat.
Namun itulah potret jiwa jiwa negara kita. Ternyata kita belum mampu mengelola diri kita dengan baik. Bangsa yang dikabarkan murah senyum danramah tamah, menampakkan keaslian sifatnya ketika terjadi bencana. Kita harus belajar banyak dari’Jepang, negara yang kabarnya ditinggali oleh sebagian orang yang ateis,tetapi ternyata mereka justru menunjukkan akhlak yang lebih mulia daripada kita yang mengaku beragama, bahkan sering kali terjadiperpecahan karena pertentangan masalah agama. Kita seharusnya malu, sebagai bangsa yang memiliki dasar negarabegitu baik, tetapi tenyata kenyataannya sebaliknya.
Budaya Antri dan Kesabaran
Sudah jamak kita ketahui, di Indonesia, sangat sulit membiasakan budaya antri. Kecuali di bank, bioskop, dan tempat-tempat wisaata, yang memang peraturannya dibuat demikian, budaya antri belum menjadi sebuah kesadaran. Menyerobot, menyogok, membayar calo, perang mulut karena berebut antrian, kerap mewarnai antrian di negara kita. Bandingkan dengan negara jepang. budaya antri telah mendarah daging dalam kebudayaan warganya. Mereka dengan tertib dan tanpa diperintah melakukan antrian pada setiap aktivitas yang membutuhkan giliran. Kebiasaan tersebut, rupanya masih juga terbawa bahkanketika dalam suasana duka dan kacau sekalipun. Meski sedang dilanda bencana yang besar dan parah, mereka tetap dengan tegar dan sabar mengantri jatah diberikannya makanan. Tak ada penyerobotan, tak ada kepanikan dan kecemasan untuk tidak mendapat bagian. Mereka melakukannya dengan penuh kesadaran. Dan ketenangan. Mereka yakin : semua akan mendapatkan bagiannya. Sungguh mempesona!
Bandingkan dengan di Indonesia. Jangankan pada saat terjadinya bencana. Pembagian sembako saja menjadi sebuah ajang “rayahan”, saling sikut, saling dorong, saling injak, tak peduli satu sama lain, yang ada di kepala adalah, bererbut duluan untuk mengambil jatah untuk diri sendiri, dan tidak hanya seperlunya, kalau bisa, sebanyak-banyaknya. Sungguh memprihatinkan kepribadian bangsa yang mengaku memiliki Panca sila sebagai dasar Negara ini. Pertanyaannya, di manakah salahnya bangsa kita? Mengapa bangsa kita tumbuh sebagai bangsa yang haus dan serakah? ingin menjadi serba paling cepat, dan nomor satu, dan tidakmempedulikan kepentingan orang lain? Pokoknya yang penting gue, yang lain, EGP! (bersambung)
Indonesia telah mengalami beberapakali permasalahan pasca gempaterjadi. Di tengah kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh becana alam, kekacauan bertambah riuh dengan kepanikan, penjarahan, informasi simpang siur, dan provokasi lainnya. Distribusi bantuan tidak merata, koordinasi penanganan bencana juga tidak jelas. Akibatnya, korban menjadi menderita. Terasa sekali, bencana alam bagaikan sebuah petaka dahsyat.
Namun itulah potret jiwa jiwa negara kita. Ternyata kita belum mampu mengelola diri kita dengan baik. Bangsa yang dikabarkan murah senyum danramah tamah, menampakkan keaslian sifatnya ketika terjadi bencana. Kita harus belajar banyak dari’Jepang, negara yang kabarnya ditinggali oleh sebagian orang yang ateis,tetapi ternyata mereka justru menunjukkan akhlak yang lebih mulia daripada kita yang mengaku beragama, bahkan sering kali terjadiperpecahan karena pertentangan masalah agama. Kita seharusnya malu, sebagai bangsa yang memiliki dasar negarabegitu baik, tetapi tenyata kenyataannya sebaliknya.
Budaya Antri dan Kesabaran
Sudah jamak kita ketahui, di Indonesia, sangat sulit membiasakan budaya antri. Kecuali di bank, bioskop, dan tempat-tempat wisaata, yang memang peraturannya dibuat demikian, budaya antri belum menjadi sebuah kesadaran. Menyerobot, menyogok, membayar calo, perang mulut karena berebut antrian, kerap mewarnai antrian di negara kita. Bandingkan dengan negara jepang. budaya antri telah mendarah daging dalam kebudayaan warganya. Mereka dengan tertib dan tanpa diperintah melakukan antrian pada setiap aktivitas yang membutuhkan giliran. Kebiasaan tersebut, rupanya masih juga terbawa bahkanketika dalam suasana duka dan kacau sekalipun. Meski sedang dilanda bencana yang besar dan parah, mereka tetap dengan tegar dan sabar mengantri jatah diberikannya makanan. Tak ada penyerobotan, tak ada kepanikan dan kecemasan untuk tidak mendapat bagian. Mereka melakukannya dengan penuh kesadaran. Dan ketenangan. Mereka yakin : semua akan mendapatkan bagiannya. Sungguh mempesona!
Bandingkan dengan di Indonesia. Jangankan pada saat terjadinya bencana. Pembagian sembako saja menjadi sebuah ajang “rayahan”, saling sikut, saling dorong, saling injak, tak peduli satu sama lain, yang ada di kepala adalah, bererbut duluan untuk mengambil jatah untuk diri sendiri, dan tidak hanya seperlunya, kalau bisa, sebanyak-banyaknya. Sungguh memprihatinkan kepribadian bangsa yang mengaku memiliki Panca sila sebagai dasar Negara ini. Pertanyaannya, di manakah salahnya bangsa kita? Mengapa bangsa kita tumbuh sebagai bangsa yang haus dan serakah? ingin menjadi serba paling cepat, dan nomor satu, dan tidakmempedulikan kepentingan orang lain? Pokoknya yang penting gue, yang lain, EGP! (bersambung)
Langganan:
Komentar (Atom)
