My life, my nature, my harmony
Selasa, 09 November 2010
MENJADI DOKTER BAGI DIRI SENDIRI (1)
Bagi sebagian sedikit orang, berbagai cara dilakukan supaya kita terus hidup sehat. mereka yang peduli akan kesehatan bahkan rela membayar mahal untuk itu. Tapi kebanyakan di antara kita, di tengah kesibukan yang menggila di era modern ini, kita bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana menjaga kesehatan dengan baik. makan, asal hajar, yang penting enak, dan suka. bekerja pun tak kenal lelah, seolah-olah kita memiliki cadangan energi ntuk bertahan tidak tidur 100 tahun lagi. olah raga? duh, mana sempet? jangankan untuk itu, waktu istirahat saja kita mencuri-curi. terkadang kita juga lalai mengkonsumsi vitamin yang kita buthkan untuk tubuh kita. tahu-tahu,.... bruk.... ketika tubuh jatuh sakit, tahulah kita, bahwa ternyata selama ini ktia kurang memperhatikan tubuh kita. kita terlalu memaksakan diri untuk bekerja dan bekerja tanpa kompromi dengan tubuh kita yang sebenarnya telah menjeritmeminta isitirahat..
Ketika tubuh ktia jatuh sakit, sesungguhnya itu adalah akumulasi dari serangkaian kelelahan tubuh kita. Akumulasi itu bisa muncul dalam berbagai bentuk penyakit, mulai dari darah tinggi, demam, liver, ginjal bahkan stroke! nauzubillahi minzalik! Penyakit-penyakit tsebut sering dsebut para praktisi suplemen sebagai the silent killer, dimana ketika sebuah penyakit berproses tanpa kita sadari, dan baru ketahuan ketika penyakit sudah akut. tak jarang diantara penderitanya semula tampak sehat-shat saja. paling-paling, mengeluh kecapean yang tak dianggap terlalu berarti, namun tiba-tiba esoknya divonis menderita penyakit yang tikngat tinggi dan memerluka penyembuhan secara intensif baik dari segi biaya, dan waktu. tentu kita tidak mau mengalami hal itu.
setiap orang memiliki kelemahan yang berbeda-beda. terkadang ancaman penyakit juga berhubungan dengan pekerjaan dan aktivitas sehari hari yang kita lakukan. buat para pekerja keras yang yangbanyak mengeluarkan tenaga, biasanya terancam oleh sakit liver. sedangkan penyakit orang yang selalu banyak duduk dan di ruang ber AC adalah ginjal, karena rasa dingin membuat di antara kita malas minum karna malas bolak balik ke kamar kecil. lain lagi bagi yang bekerja di bidang nuklir ancaman radiasi nuklir dapat merusaksistem hormon dalam tubh manusia. oleh karena itu kita perlu mengenali tubuh kita sendiri, untuk sehat.
satu hal yang penting, adalah membuat rekaman kesehatan kita. tak banyak yang melakukan rekaman kesehatan, padahal itu sangat penting. gunanya adalah untuk mempermudah dokter dalam menangani kita apabila kita sakit. terkadang, mal praktek terjadi karena kurangnya informasi dokter akan riwayat penyakit pasien. seperti kita ketahui,budaya dokter di indonesia, kebanyakan hanya menanyakan seputar keluhan, periksa sebentar lalu kasih obat. seandainya kita memiliki rekaman kesehatan diri kita sendiri, alangkah lebih mudahnya untuk melihat peta kesehatan kita sendiri, selain itu, dokter pasti akan lebih mudah menganalisa dan meneliti suatu penyakit, sehingga langkah preentif terjadinya mal praktek sudah dilakukan.
sya sendiri adalah orang yang sering kali mengalami sakit. tiap bulan pasti ada saja hal-hal yang minimal membuat badan saya kurang enak. hal ini membuat saya kemudian meneliti tubuh saya, apa yang terjadi, dan faktor apakah penyebabnya. terkadang, kita sendiri tak mampu ntuk mengingat-ingat sejak kapan kita mengeluh sesuatu, atau obat apa yang pernah kita konsumsi yang barangkali juga mempengaruhi kondisi keadaan kesehatan kita. wal hasil, saya mulai membuatcatatan untuk mereview catatan kesehatan saya sendiri. saya buat dalam bentuk tabel, yang terdiri dari kolom nomor, jenis keluhan, tindakan yang saya lakukan, efek, dan keterangan. saya kemudian jadi bisa melihat alur riwayat penyakit saya, semisal, bulan lalu saya jatuh sakit karena saya kelelahan dan kurang minumvitamin. kemudian bulan berikutnya saya meriang karena terlalu banyak ac.... lama kelamaan saya bisa mewaspadai dan mengukur diri saya sendiri, untuk bisa mengontrol kesehatan saya. paling tidak, saya mencegah,... kalaupun kita sudah mencegah toh akhirnya sakit juga, anggap saja itu pengguguran dosa-dosa yang tidak bisa dihapus dengan doa, melainkan dengan sakit....
mengobati diri sendiri
ada pepatah bijak mengatakan, dokter terbaik adalah diri kita sendiri. hal ini bisa dibenarkan, karena kitalah yang memiliki tubuh, kitalah yang mengetahui apa yang tubuh kita butuhkan. tentu saja, hal ini tidak mudah begitu saja dilakukan. serangkaian pengenalan diri kita pada diri sendiri, dan penelitian mendalam kita akan diri kita sendiri, mutlak dibutuhkan untuk bisa mengobati diri sendiri. dulunya, sayasakit-sakitan lebih parah dari pada saya sekarang. tetapi sejak saya mulai melakukan research tentang diri saya, saya merasa pikiran, jiwa, dan tubuh saya menyatu. ketika tekanan darah saya turun misalnya, dengan sendiriny hati atsaya memiliki keinginan untuk makan sate kambing. keinginan ini bukanlah nafsu makan yang menggila,namun sekiranya sudah merasa cukup, saya pun memiliki sinyal untuk makan sate secukupnya. apabila saya melanggar, maka benarlah, dicek ke dokterrupanya keluharnnya adalah tekanan darah rendah. dan apabila sinyal hati saya untuk stop tik say aperhatikan, bukannya enak badan yang saya dapatkan, tetapi malah sebaliknya. ini terjadi berkali-kali sampai saya akhirnya memahah mi, bahwa tubuh saya sebenarnya memiliki sinyal sinyal untuk berkomunikasi dengan kita.
selain itu, ketika sakit, secara intuitif saya bisa meraba, kira-kira apa yang tubuh saya perlukan, tanpa harus bertanya pada orang lain tentang apakah obatnya. misalnya, ketika saya sakit maag, dengan terstruktur saya menemukan obatnya bahwa apa yang saya butuhkan adalah kunyit, takarannya sekian, dan perlu dimakan selama beberapa hari. dan alhamdulillah, selamaini tubuh saya pun menerimanya.
saya merasa, setaip orang memiliki kemampuan alamiah itu. karena manusia pada dasarnya makhluk yang universal. tubuh, jiwa, dan pikiran, menjadi satu dalam sebuah sistem pertahanan diri yang baik. tinggal pilihan kita, akan menyatukannya atau membiarkan semuanyabekerja sendiri-sendiri, tanpa saling mengkait.... jika kita memilih tubuh kita berjalan sendiri tanpa kontrol jiwa dan intuisi kita, maka bersiap siaplah kita tidakmengenalnya ketika ia mengalami masalah.akibatnya, banyak orang berobat ke sana kemari tapi tidak sembuh. hal ini karena ia sering mengabaikan sinyal-sinyal alami dalam tubuh kita. namun jika sebaliknya, maka insyaallah hidup kita pun akan terjaga. sakit memang tak bisa didguga tetapi dicegah itu lebih baik....
mengenali sinyal-sinyal alami tubuh kita
beberapa orang bertanya dan menyangkal intuisi adalah milik semua orang, karena kenyataannya mereka tidak pernah merasakan itu. golongan ini berpikiran bahwa intuisi adalah bakat orang – orang tertentu saja, dan menyamakannya dengan semacam six sense. sebenarnya hal itu salah. karena manusia pada dasarnya memiliki substansi yang sama. hanya, lingkungan, kebiasaan hidup, paradigma, dan gaya hiduplah yang mempengaruhi apakah intuisi itubisa tu mpul atau sebaliknya makin tajam. inutuisi sebenarnya kita perlukan bukan utnuk siapa-siapa melainkan untuk pertahanan diri kita sendiri. sebagian orang menyebutnya feeling. hal ini bisa diasah dengan seringnya kita meluangkan waktu sejenak untuk diri kitasendiri, sekedarberdiam diri dan mendengarkan apa kata hati kita yang sebenarnya.pengakuan dan penerimaan akan isi hati kita sejujurnya akan memperkuat intuisi kita dan mendorong diri kita untuk bersikpa sesuai apa yang ada dalam isi hati kita. kebiasaan ini menghindarkan kita dari sikap munafik baik pada diri sendiri maupun orang lain.
(bersambung)
Nov. 2010
Rabu, 29 September 2010
Gas Buang Angin...
Pulang kerja, habis makan, ga biasanya aku cuci tangan di wastafel, kali ini rasanya pengen banget ke dapur buat cuci tangan.... Pas lagi konsentrasi cuci tangan mpe ke sela-sela, di antara gemericik air kudengar bunyi ssssssssssss.... Serem amat apaan yah? Setelah kucar-cari, OMG ternyata bunyi itu asalnya dari slang gas yang terhubung ke kompor. Masih penasaran ku coba pasang baik-baik kedua kupingku, iya, bener.... emang suara mendesis itu asalnya dari gas.... Tapi,... kok ga terlalu bau ya? Sempat punya ide untuk mencoba nyalain,... namun ku teringat pada pengalaman meleduknya gas-gas yang tersiar di TV.... Akhirnya aku manggil Kang Wawan bagian urusan bersih2 untuk mengecek.... Hasilnya? Gas memang harus diistirahatkan, karena rupanya sambungan slang udah aus dan ga mungkin dipake lagi....
Yang ku heran, anak-anak bilang, belum juga setaun, tapi udah bocor? Dalam 2 taun udah ganti 2 kali??? What's wrong ya??? Kompornya ato emang slangnya murahan? Kalo slangnya, kayanya ga si, karena anak-anak pastilah belinya yang bagus, kutau anak-anak paling takut yang namanya gas... Mending bayar rada mahal yang penting aman. Tapi kalo kompornya,.... may be juga. Karena konon uda bertaon-taon kompornya itu-itu juga. Meski penampilannya lumayan jreng krena sering dibersiin, bisa krena masa pakena uda lama dalemnya kropos jadi aus (krena ga pernah ga mungkin nge cek mpe ke dalem)....
Aku jadi teringat bagaimana rakyat kecil yang pendidikannya ga terlalu tinggi, wawasannya kurang luas, dan mental mereka kurang terlatih untuk selalu cek n ricek segala hal.... Sekian persen penduduk Indonesia terdiri dari orang-orang macam itu,.... Dan mereka mau tak mau harus dipaksa menggunakan teknologi baru untuk masak memasak; menggunakan gas....Belum lagi ditambah kualitas barang yang sampe pada rakyat bawah, biasanya yang kualitasnya nomor sekian....
Jangankan rakyat kecil, orang yang ngaku kerja kantoran aja, kadang enggak ngeh soal hal-hal begitu. Ga sempet lah... hemat, lah... n yang pasti, banyak juga yang emang ga mau tau....
Jadi wajar jika banyak gas meleduk dimana-mana.... Karena memang faktornya sangat kompleks begitu.... So, bagaimana? Ku sendiri juga takut pake gas,.... Pengalaman itu mengingatkanku pada 'perlindungan Tuhan'.... Coba bayangin kalo keadaan lagi berisik, dan aku ga denger suara mendesis itu? Dan kebetulan memang baunya ga terlalu nyengat, tapi kenyataannya gas bocor. Tau-tau aku maen nyalain kompor, aja! bisa dibayangin kejadiannya bakal kaya apa. Masuk tipi kali. Tapi alhamdulillah, aku ke dapur, n mendapati si gas lagi buang angin,....
Selaen itu ku juga jadi menyadari, pentingnya membiasakan punya mental disiplin, cek n ricek secara berkala untuk alat-alat yang mengandung bahaya macam ini. Terutama kalo di rumah tangga, tukang ceknya adalah kita sendiri, pa lagi anak kos... Siapa lagi yang ngecek kalo bukan kita-kita olang?
Emang ga gampang menumbuhkan mental kayak gitu.... Karena di negeri kita udah mendarah daging dengan budaya seenaknya. Mau yang enak n seenaknya make. Jadi ga kritis untuk hal-hal begituan....
Yah,... mengubah budaya emang sulit,... lebih baik kita mengubah diri sendiri dulu.... Sapa tau dengan kita berubah, budaya lama-lama juga ikut berubah??? Amin..... ***
Jumat, 23 April 2010
Remaja, Gak Perlu Malu Kali..?!
Malu bukan saja didominasi oleh remaja. bisa saja yang sudah bukan remaja lagi masih ada yang punya problem malu-malu'kan? So saya posting this tulisan dari voa-islam.com:
Ada orang yang mengatakan, “Karena saya malu, sewaktu presentasi tadi, performa saya sangat buruk. Padahal saya sudah mempelajarinya mati-matian.
Yang lainnya mengatakan, “Saya tidak punya banyak teman, saya orangnya pemalu.”
Ada lagi yang mengaku, “Saya tidak bisa mengemukakan pendapat di hadapan orang banyak. Saya malu seandainya orang mencela pendapat saya itu.”
Dari beberapa pernyataan di atas, mungkin ada satu yang pernah kita utarakan, atau bahkan semuanya pernah kita ungkapkan. Beberapa pernyataan di atas hanyalah segelintir persoalan yang dihadapi sejumlah remaja dan pemuda –terutama perempuan— yang mengalami perasaan malu.
Ada beberapa pertanyaan yang melintas di benak; mengapa seseorang cenderung malu? Bagaimana memberangus perasaan malu? Bagaimana mengetahui jika seseorang itu pemalu atau tidak? Faktanya, sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, ada baiknya kita mengetahui perbedaan antara malu yang baik (al-hayaa`) dengan perasaan malu yang buruk.
Banyak orang yang salah memahami arti al-hayaa` (perasaan malu sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam hadits beliau). Mereka berpandangan bahwa tidak ada perbedaan antara perasaan malu yang negatif dan al-hayaa`.
Dalam Islam, al-hayaa` merupakan cabang signifikan dari keimanan. Bagaimana pun, sejatinya terdapat perbedaan besar antara perasaan malu yang buruk dan al-hayaa`. Al-hayaa` merupakan terminologi yang menujukkan bagaimana seseorang menghindar dari perbuatan dosa, dalam artian dia malu untuk melakoni kesalahan dan dosa atau segala sesuatu yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah malu yang positif, bukan malu yang negatif ketika kita akan melakukan hal-hal positif dan bermanfaat. Karena Rasulullah sendiri tidak pernah malu untuk mengungkapkan kebenaran dan hal-hal bermanfaat lainnya.
...Perasaan malu yang negatif muncul disebabkan ketiadaan komunikasi sosial dan perasaan tidak percaya diri, sehingga menyebabkan orang yang malu menjadi introvert dan terisolasi...
Perasaan malu yang negatif muncul disebabkan ketiadaan komunikasi sosial dan perasaan tidak percaya diri, sehingga menyebabkan orang yang malu menjadi introvert dan terisolasi.
Nah, tipikal malu seperti inilah yang sangat tidak dianjurkan dan dianggap sebagai hal negatif. Bagaimana pun, ada beberapa indikasi yang mengatakan bahwa kamu mengalami perasaan malu negatif dikarenakan tidak percaya diri.
Indikasinya
Sebenarnya, perasaan malu merupakan perasaan pribadi (dari dalam diri) yang bisa muncul dari berbagai aksi dirimu di sejumlah situasi, terutama jika kamu harus banyak berinteraksi dengan banyak orang.
Perasaan malu tersebut dibarengi beberapa gejala, di antaranya adalah perasaan-perasaan memalukan, panik, gelisah, speechless (kelu, tidak bisa berkata), dan ketidaknyamanan. Orang yang memiliki perasaan malu negatif juga menghadapi sejumlah persoalan fisik, seperti kesulitan bernafas dan keringat berlebih. Jika kamu merasa tidak bisa berbicara keras di hadapan banyak orang, maka hal tersebut berarti bahwa kamu menghadapi perasaan malu negatif yang akut.
...Perasaan malu tersebut dibarengi beberapa gejala, di antaranya adalah perasaan-perasaan memalukan, panik, gelisah, speechless (kelu, tidak bisa berkata), dan ketidaknyamanan...
Para pemalu (dengan malu negatif) tidak memiliki banyak teman dan menderita introvert ketika bertemu dengan orang baru. Mereka senantiasa menghadapi banyak rintangan di setiap situasi yang meniscayakan keberanian. Kemudian mereka juga bereaksi secara pasif di berbagai situasi yang membutuhkan opini mereka, sehingga mereka lebih memilih untuk diam seribu bahasa.
Akibatnya, mereka tidak memiliki skill yang baik dalam mempresentasikan sesuatu di hadapan khalayak ramai. Oleh sebab itu, kebanyakan dari mereka lebih memilih mendapatkan pekerjaan yang tidak membutuhkan skill tersebut. Contohnya, sangat jarang orang-orang pemalu yang memilih menjadi pembaca berita.
Pengaruh Negatif
Perasaan malu dapat menyebabkan banyak persoalan bagi pelakunya, dan bisa menjadi rintangan baginya dalam mencapai tujuan-tujuannya. Contohnya, kita mungkin menemukan ada seorang mahasiswa rajin lagi pekerja keras, namun memiliki nilai rendah. Semua itu bisa terjadi disebabkan dia tidak memiliki kemampuan presentasi yang baik.
...Perasaan malu bisa menjadi rintangan dalam mencapai tujuan...
Betapa banyak para pemuda dan pemudi yang kehilangan sejumlah pekerjaan dan kesempatan di dalam kehidupan mereka dikarenakan perasaan malu negatif. Berapa banyak dari mereka yang memiliki profil dan curriculum vitae sangat memukau, namun tidak terpilih hanya karena buruknya performa pada saat wawancara atau presentasi.
Mengapa Harus Malu?
Faktanya, ada beberapa faktor penyebab malu negatif. Dimulai dari masa kecil, ada beberapa hal yang menjadi penyebab, seperti orangtua yang over protective, sehingga menyebabkan seseorang tidak mampu mengekspresikan dirinya atau menghadapi berbagai situasi penuh keberanian.
Kemudian, ketiadaan pengalaman hidup juga bisa menjadi sumber timbulnya malu yang negatif. Dengan kata lain, menghadapi berbagai situasi baru untuk pertama kalinya mungkin menyebabkan perasaan malu. Lalu rendahnya tingkat kepercayaan diri juga menjadi biang di balik tingginya rasa malu, karena kamu menjadi tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, sehingga perasaan tersebut bisa berubah menjadi perasaan malu yang akut.
Berbagai situasi yang mengharuskan dirimu untuk mengkritisi dan menggoda bisa menjadi penyebab utama di balik rasa malu. Semisal jika kamu telah menghadapi sejumlah situasi, lalu kamu mulai kehilangan keberanian dan kapabilitas untuk mengekspresikan diri sendiri.
...Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah memahami inti persoalan alias perasaan malu dirimu...
Bagaimana Mengatasinya?
- Pahami dulu persoalannya. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah memahami inti persoalan alias perasaan malu dirimu, bagaimana ia ternyata dapat memberi pengaruh negatif ke dalam kehidupanmu. Kemudian, menelisik berbagai penyebab rasa malu yang ada pada dirimu menjadi bagian vital untuk memberantas perasaan negatif tersebut. Langkah signifikan lainnya adalah memiliki kehendak kuat dan ketegasan untuk menghilangkannya.
- Mengenali sifat-sifat positif yang ada pada dirimu. Pasalnya, dengan memahami titik-titik kekuatan yang kamu miliki, maka kamu bisa mendapatkan kepercayaan diri, sehingga bisa membuang jauh-jauh perasaan malu negatif. Ini mengingat, setiap orang pasti memiliki kekuatan dan kelebihan. Jadi, eksplorasi kelebihan dirimu dan eksploitasi secara positif.
- Beranikan dirimu untuk berbicara. Karena orang-orang di sekitar dirimu yang memiliki keberanian untuk berbicara adalah tidak lebih baik darimu. Jadi jangan memikirkan segenap konsekuensi setelah kamu berbicara (kalau memang yang kamu utarakan adalah hal-hal baik dan positif), dan jangan pedulikan pandangan orang terhadap dirimu. Karena kamu tidak akan pernah bisa mengembangkan keterampilanmu jika kamu tidak pernah berbicara dan memaparkan opinimu secara bebas.
- Berpartisipasi dalam aktivitas kolektif. Dengan menjadi bagian dari sebuah kelompok atau kerja tim (team work building), maka dapat membantu kamu mengikis perasaan malumu. Hal ini akan berlangsung secara gradual.
- Berdoa dan memohon kepada Allah. Sangat penting dan signifikan sekali untuk memohon kepada Allah agar Dia memberikan kekuatan dan keberanian kepadamu untuk menghilangkan perasaan malu negatif. Doa menjadi alat yang luar biasa untuk memutus perasaan malu dari dirimu.
...Berpartisipasi dalam aktivitas kolektif dapat membantu kamu mengikis perasaan malumu...
Sejatinya, tidak susah untuk menghilangkan perasaan malu negatif dari dirimu. Terakhir, keputusan ada tanganmu; apakah kamu ingin tetap menyandang perasaan malu itu sepanjang hidup, ataukah kamu ingin meningkatkan skill dan menghilangkan perasaan malu yang berdampak negatif pada kehidupan karir dan sosial. Jadi, jangan kecil harapan dan bersabarlah. Kini saatnya untuk kamu mengatakan, “Ngga perlu malu lagi kali?!” [ganna pryadha/voa-islam.com]
Rabu, 24 Maret 2010
Hidup Harmony
Banyak keinginan orang yang mengatakan: “ saya ingin hidup harmonis ”, “ saya ingin mempunyai keluarga harmonis…”. Namun bisakah harmonis terjadi begitu saja? Tentu saja tidak! Harmonis adalah hak, dan tentu saja pilihan hidup setiap insan. Akan tetapi, untuk menjadi harmonis tidaklah mudah. Anda harus siap berjuang untuk mencapainya. Harmonis
Harmonis adalah hidup selaras secara universal. Dalam setiap interaksinya orang yang hidupnya harmonis akan merasa bahagia dan selalu damai hatinya, walaupun ia sedang menerima musibah atau sedang mengalami kesulitan materi dalam hidupnya. Ia akan tetap melihat di balik musibah terdapat hakikat, dan kesulitan adalah jalan kemudahan yang ia akan lalui. Karena baginya, dalam penderitaan maupun kesenangan tidak ada bedanya.
Seseorang yang harmonis mempunyai sikap fleksibel, positif dalam berfikir, bijaksana dalam memandang, arif dalam melihat, namun tegas dalam tindakan. Karakter orang yang harmonis selalu selaras dengan sifat dan karakter alam; kadang seperti air, seperti tanah, seperti angin atau udara, dan seperti api. Pada orang yang harmonis dimanapun ia berada akan selalu menyenangkan lingkungan, ia kerap bersahabat dengan mudah kepada setiap orang. Keselarasan yang dialami seseorang ini akan membawa dampak pada munculnya kebahagiaan lahir maupun bathin.
Untuk mencapai harmonis ada beberapa fase yang harus dilalui, jika anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut….silahkan terus mengakses web ini.
Keharmonisan hidup tidak melulu tergambar dalam potret keserasian secara fisikal. Harmonis hadir berawal dari kesadaran “dalam” diri setiap manusia. Dalam teori kehidupan, terjadi sinergi 2 teori faktor; memberi dan menerima. Lihat saja kenyataan di dunia ini adanya orang kaya pasti adanya orang miskin. Ini sebagai bukti bahwa 2 faktor itulah yang menjadikan keseimbangan hidup, karena keterikatan satu sama lain yaitu terciptanya saling membutuhkan. Si kaya membutuhkan si miskin, begitupun sebaliknya, si miskin akan bekerja kepada si kaya dan si kaya memberikan upah bagi tenaga si miskin. Seperti halnya transaksi dalam dunia bisnis, ada pedagang maka ada pembeli. Harmonisasi hal ini akan lebih manis jika hubungan interaksi 2 faktor saling membutuhkan tersebut menjaga dan meningkatkan kualitas peranannya secara benar. Tidak ada ekspolitasi dan penjajahan atas peranan masing - masing.
Menjadi Bahagia
Banyak orang mengidamkan hidup tenang dan bahagia, akan tetapi mereka belum tentu mengerti apa itu kebahagiaan sebenarnya. Bagi kebanyakan orang bahagia di-identikkan dengan pemenuhan kesenangan materi semata, padahal kebahagiaan tidak bisa diukur oleh sesuatu yang bersifat materiil. Contohnya: ketika anda dapat membantu orang yang dalam kesulitan, maka ketika orang tersebut berhasil keluar dari kesulitan dan menjadi bahagia atas bantuan anda maka anda pun akan merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak dapat diukur harga dengan material, tetapi dapat dideteksi dari munculnya kecantikan dalam atau ( inner beauty ) dalam sosok seseorang.
Kebahagiaan sesungguhnya adalah perasaan batiniah yang melampaui panca indra, yaitu melampaui suara dan gelak tawa, dan jauh dari keramain fisik. Kebahagian tidak muncul karena angin sepoi - sepoi basa di sekeliling kita, atau karena mata yang terperangkap dalam penglihatan sesuatu yang indah, atau telinga yang menangkap irama disco, atau lagu syahdu atau karena mengecap makanan yang lezat. Kebahagiaan batiniah bisa dirasakan sewaktu kita merasakan kehadiran sesuatu yang Ilahiah.
Menjadi Damai
Damai adalah sesuatu keadaan bathin, yang sulit diungkapkan oleh lisan namun dapat dirasakan. Vibrasi dari energi orang yang mengalami kedamaian akan ikut mempengaruhi perasaan orang yang berada di dekatnya. Orang yang mengalami kedamaian mengalami ekstase dengan diri fisik. Karenanya fisik orang yang mengalami kedamaian akan terlihat segar dan ceria walau aktifitasnya padat.
Alangkah bodohnya jika ada orang yang mengartikan kedamaian dengan cara yang salah; menggunakan obat - obatan zat adiktif yang mengandung rasa kecanduan atau ketagihan. Mereka yang mencari kedamaian melalui obat dan narkotika justru mereka tidak mendapat kedamaian, karena fisik akan mengalami penurunan kesehatan, pikiran melayang amburadul, hati cemas dan ketakutan. Mana mungkin orang seperti ini mendapatkan kedamaian?. Kedamaian sejati bukan diperoleh dengan cara memberi konsumsi yang material untuk badan, akan tetapi memberikan makanan yang non material bagi ruhani. Biasanya dengan cara mencari pengalaman batiniah melalui ilmu pengetahuan.
Mencapai damai harus melalui keinginan hati, karena akan ada latihan mengubah cara menyikapi hidup. Walau begitu tidak mudah menjadi damai jika teknik yang diajarkan tidak diaplikasikan dalam pengalaman sehari - hari. Banyak orang datang dan bertanya pada saya tentang ini. Yang membuat mereka sulit mencapai kedamaian adalah karena faktor kebiasan sikap hidup yang sudah melekat bertahun - tahun. Saya bilang tidak ada yang sulit di dunia ini jika kita punya kekuatan disiplin. Jadi intinya Anda harus menyediakan ruang dalam hidup anda untuk disiplin dalam proses mencapai damai.
Bahagia dan damai adalah unsur menjadi harmonis.
Sumber : www.lifeisharmony.com
Senin, 15 Maret 2010
Jalan Penuh Bunga
To be harmony like nature,....Lihat, deh, meskipun gambar di sebelah cuma lukisan, tapi... indah, 'kan?
Anda juga ingin, 'kan, hidup penuh dengan bunga-bunga? Mari kita sharing bunga-bunga itu untuk lebih menyemarakkan hidup kita.... Salam....